Persiapan Menjadi Sutradara (part 1)

Sutradara

Sebagian dikutif dari buku jadul “The Film Director” karya Richard L.Bare

Tidak seperti sebagian artis, aktor, maupun penulis yang biasanya terlahir dengan bakatnya, seorang sutradara harus mempelajari seni dari pekerjaan yang digelutinya. Melalui apa? yakni melalui :

  • Observasi dan tentu saja praktek.
  • Sutradara juga bisa belajar dengan cara menonton film-film karya sutradara yang lain.
  • Calon sutradara juga bisa belajar dengan memperhatikan cara sutradara lain bekerja di lapangan
  • Pengetahuan penyutradaraan juga bisa diperoleh dari membaca buku-buku tentang film atau mengikuti pendidikkan sinematografi bisa berupa kursus atau pendidikan formal
  • Satu hal yang pasti, tempat berlatih yang baik bagi calon sutradara adalah industri film itu sendiri. Intinya, terjun langsung dalam dunia film adalah pelatihan terbaik.

Memang tidak begitu banyak institusi pendidikan yang memfokuskan pada sinematografi di Indonesia, beberpaa perguruan tinggi diantaranya ada IKJ (Institut Kesenian Jakarta), ISI (Institut Seni Indonesia) Jogyakarta, dan Next Academy. Lain halnya kalau broadcasting (penyiaran), puluhan perguruan tinggi sudah membuka jurusan ini. Universitas Indonesia, UNPAD Bandung, Univ Moestopo, Sahid, AKOM BSI, Univ Tarumanagara, dan terakhir Univ Pancasila memiliki jurusan Broadcasting. Nah kalau tempat kursus diantaranya, School for Brodcast Media, PPHUI (Usmar Ismail), Diklat TVRI, Broadcast Center UI, dan CMC.

Selain institusi tadi, sutradara Rudy Soejarwo pernah mengadakan pelatihan penyutradaraan, juga Pop Corner yg terdiri dari beberapa sineas muda, terakhir Hanung Bramantyo juga mengadakan semacam pelatihan untu calon asisten sutradara.

Mengikuti pendidikan formal atau kursus bukan jalan satu-satunya, seperti yang diuraikan di atas bahwa ada cara-cara lain. Menonton karya sutradara lain juga penting dan ini juga dilakukan di perguruan tinggi semisal yang dilakukan di University of Southern California dan Academy of Motion Picture Arts and Sciences bahkan di Institut Kesenian Jakarta juga, bahkan menonton menjadi kewajiban mahasiswa. Sutradara Riri Riza menyukai sesi menonton ini yg diwajibkan di mata kuliah Sejarah Film.

Advertisement

3 Comments

  1. Wahhhh…..susahnya jadi sutradara yah …..
    tapi,,,,,yang susah – susah ini yang harus di jalanin….
    apa sih bedanya hanung dan nexen????
    bedanya dia sutradara klo nexen adalah calon, inget yeh…CALON sutradara….

  2. kompetisi nasional | fiksi dan dokumenter

    durasi maksimal 30 menit

    pendaftaran 5 mei – 18 juli 2008

    unduh formulir pendaftaran: http://www.konfiden.or.id

    e-mail: festival@konfiden.or.id

    penanggung jawab: Sdri. T. Lintang G. / Yayasan Konfiden

    Jl. Cilandak Bawah V No. 55, Jakarta 12430, Indonesia

    Tel. +6221 7651722 | Fax. +6221 7510690

  3. KOMPETISI VIDEO AMATIR “INDONESIA GO GREEN”

    Durasi maksimal 3 menit.

    Mulai tanggal 15 Mei – 15 Agustus 2008

    Dapatkan hadiah menarik untuk pemenang dan voter!

    Ayo!… Shoot-Capture-Share!

    Keterangan lebih lanjut:

    http://www.beoscope.com/gogreen

    Email: purwanto.hasan[at]beoscope.com


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.