Ada Makna di Balik Shot

Ada Makna di Balik Shot (part 1)

Oleh Diki Umbara

Melalui unsur verbal dan visual (nonverbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami secara utuh (Barthes, 1998:172-173).

Saya setuju dengan tesis yang dikemukanan ahli semiotika dunia Roland Barthes di atas, namun pada tulisan saya kali ini justru akan lebih banyak melihat dari makna pertama utamanya unsur visual (gambar) yakni makna denotatif. Penulis akan mencoba bagaimana makna-makna verbal itu dihasilkan dari sisi praktisi, si pembuat pesan ( sinematografer, videografer, filmmaker, videomaker, broadcaster). Secara spesifik penulis akan mengurai ada makna apa di balik sebuah shot. Ketika kita menonton sebuah film atau tayangan televisi, sebenarnya kita sedang menyaksikan rangkaian shot dalam sebuah scene, dan rangkaian scene dalam sebuah sequence, dan seterusnya hingga kita melihat tayangan atau film secara utuh. Disadari atau tidak disadari sebenarnya penonton telah disuguhi ratusan bahkan ribuan shot yang muncul silih berganti di layar televisi setiap harinya.

Pasti ada pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat dalam menciptakan rangkaian shot-shot tadi, sayangnya tidak semua pesan bisa disampaikan dengan baik dan celakanya hal ini karena ”kesalahan” dari si pembuat pesan. Shot semestinya tidak semata urusan teknis mekanis dan estetis,menyampaikan pesan akan ”berurusan” dengan falsafah, the philosophy of the shot. Wah serumit itukah? mari kita pahami sampai tuntas.

Belum ada kesepakatan tentang definisi yang benar-benar pas tentang apa itu sebenarnya shot. Ketika kita menekan tombol rec atau start sampai kita tekan sekali lagi tombol yang sama, maka itu adalah satu shot. Walaupun hanya satu detik atau bahkan sampai satu jam dari awal sampai akhir, baik bergerak maupun diam.

SHOT SIZE/Type of Shot

Shot size/type of shot atau ukuran shot adalah besar kecilnya subjek dalam sebuah frame.Type of shot itu terdiri atas :

  • ECU : Extreme Close Up (detail shot)
  • VCU : Very Close Up (shot wajah) dari atas kepala sampai dagu
  • BCU : Big Close Up (tight CU, full kepala), wajah memenuhi layar
  • CU : Close Up, dari keapala sampai pundak
  • MCU : Medium Close Up,
  • Knee, 3/4Shot :
  • MLS : Medium Long Shot
  • LS : Long Shot
  • ELS : Extra Long Shot (extereme LS, XLS)

Masing-masing ukuran shot di atas akan memiliki makna yang berbeda-beda ketika diimplementasikan pada pengambilan sebuah gambar/shooting.

Long Shots, secara umum penggunaan shot jauh ini akan dilakukan jika :

  • Untuk mengikuti area yang lebar atau ketika adegan berjalan cepat
  • Ketika subjek
  • Untuk menunjukkan dimana adegan berada/menujukkan tempat
  • Untuk menujukkan progres
  • Untuk menjukkan bagaimana posisi subjek memiliki hubungan dengan yang lain

Medium Shots, type shot seperti ini yang paling umum kita jumpai dalam film maupun televisi. Jenis shot ini adalah paling aman, karena tidak ada penekanan khusus seperti halnya pada Long Shots dan Close Shots. Semua adegan bisa ditampilkan dengan netral di sini.

Close Shots, televisi adalah media close up. Awalnya premis ini karena berkaitan dengan hal teknis. Pertama, acara dengan media televisi harus ditampilkan secara close up karena ukuran televisi yang kecil jika dibandingkan dengan layar di bioskop. Ke dua, berbeda juga dengan bisokop, acara televisi ditonton sambil lalu, akan lebih cocok menampilkan gambar-gambar dengan close shot/padat.

Tapi,yang perlu dipahami juga justru makna-makna yang ditampilkan ketika shot-shot itu dibuat secara close up. Efek close up biasanya, akan terkesan gambar lebih cepat, mendominasi, menekan. Ada makna estestis, ada juga makna psikologis.

MOVEMENT

Terdapat paradoks dalam menciptakan camera movement untuk menghasilkan perubahan visual ketika mencoba membuat invisible movement. Secara teknis hal ini dimaksudkan untuk menghindari bergesernya perhatian penonton. Caranya adalah dengan melakukan pergerakkan kamera yang mengikuti pergerakkan subjek. Tapi yang harus diperhatikan tentu saja adalah tujuan atau motivasi dari pergerakkan kamera itu dibuat. Secara umum, menurut Peter Ward dalam Digital Video Camerawork, motivasi itu antara lain :

  • Untuk menambah interest visual
  • Mengekresikan kegembiraan
  • Meningkatkan ketegangan
  • Memberikan interes pada subjek baru
  • Memberikan perubahan angle/sudut pandang.

Secara khusus, ada dua kaidah dalam mengontrol camera movement, yakni menyesuaikan gerakkan dengan aksi subjek sehingga gerakan kamera akan distimulasi oleh aksi dan yang kedua adanya kebutuhan untuk menjaga komposisi yang baik selama pergerakkan.

Hampir di keseluruhan shot yang ditampilkan dalam film Emergency Room atau E.R. menggunakan konsep ini, dengan demikian efek dramatis tercipta sehingga penonton akan merasakan bagaimana suasana yang sangat dinamis di setiap ruang rumah sakit. Demikian juga di beberapa filmnya Rudy Soedjarwo, walaupun menurut saya masih terasa nanggung. Jadi, apa sebenarnya motivasi Rudy membuat film dengan konsep handheld tersebut ?

ANGLE

Secara mekanis, angle atau sudut pengambilan gambar itu berhubungan erat dengan lensa kamera, baik jenis lensa yang digunakan maupun penempatan kamera itu sendiri. Masih menurut Ward, ruang internal shot sering menonjolkan kualitas emosional dari adegan. Perspektif yang normal untuk membangun shot sering digunakan secara gamblang dan langsung. Tinggi lensa akan mengendalikan bagaimana penonton mengidentifikasi subyek. Lensa rendah akan mengurangi detail level latar belakang dan menghilangkan indikasi antara latar belakang dengan objek. Posisi lensa yang tinggi memiliki efek sebaliknya.

Low Angle

Pengambilan gambar dengan low angle, posisi kamera lebih rendah dari objek akan mengakibatkan objek lebih superior, dominan, menekan.

High Angle

Kebalikan dari low angle, akan mengakibatkan dampak sebaliknya, objek akan terlihat imperior, tertekan

Dengan mengetahui dampak pesan yang akan tersampaikan dari sudut pengambilan gambar ini, diharapan sinematografer atau videografer bisa mengkonstruksi shot-shot yang akan dibuat sesuai dengan pesan apa yang ingin kita sampaikan pada penonton.

Satu sekuens yang sama akan dimaknai berbeda ketika pemlihan angle shot yan berbeda pula. Misalnya adegan demontrasi mahasiswa, rangkaian petama : 1.long shot para demontrans, 2. high angle demonstran teriak-teriak, 3. low angle polisi sedang menggebuki demonstran. 4. high angle demontran kesakitan, sedangkan rangkain ke dua : 1.long shot para demontrans, 2. low angle demonstran teriak-teriak, 3. high angle polisi sedang menggebuki demonstran. 4. low angle demontran.Dalam sekuens pertama, penonton akan memaknai rangkaian shot tersebut bahwa ada demontrasi yang dilakukan mahasiswa, polisi dengan superioritasnya bisa menangani aksi demontrasi itu dengan sikap represif, mahasiswa teretekan. Sedangkan dalam rangkain shot pada sekuens ke dua, penonton akan melihat demontrasi yang dilakukan mahasiswa walapun dijaga oleh para polisi, mahasiswa terlihat superior dan mendominasi bahkan lebih gagah dari para polisi.

Ya, ini baru satu aspek saja yakni dari angle atau sudut pengambilan gambar bisa mengahsilkan efek yang berbeda pada penonton. Jadi, angle menjadi elemen makna atau pesan. Pesan apa yang ingin disampaikan pemberi pesan ?

Secara detail, Ward mengemukan bahwa sudut lensa mana yang dipilih tergantung dari tujuan shot, yang terdiri atas :

  • Menonjolkan subyek prinsip
  • Menyediakan variasi ukuran shot
  • Memberikan kelebihan tambahan terhadap subyek yang dipilih
  • Menyediakan perubahan sudut atau ukuran shot untuk memungkinkan terjadinya inter cutting yang tidak menonjol
  • Menciptakan komposisi shot yang baik
  • Meningkatkan arah mata


Sinematografi (part1)

Tentang Sinematografi

Sejarah sinematografi sangat panjang, namun di sini tidak akan dibahas tentang “perjalanan” sinematografi dari awal. Kemajuan teknologi akan terus berkembang, demikian juga dengan teknologi sinematografi, sehingga kini dikenal dengan sinematografi digital. Kemajuan ini tentu saja akan lebih memudahkan para sineas dalam berkarya. Sebelum lebih lanjut membahas sinematografi, baiknya kita fahami dulu makna dari sinematografi itu sendiri. Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris cinematograhy yang berasal dari bahasa latin kinema gambar. Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar.Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam senematografi disebut montase atau montage.

D.O.P

D.O.P atau Director of Photography adalah seorang seniman yang melukis dengan cahaya. Dia harus familiar dengan komposisi dan semua aspek teknik pengendalian kamera dan biasanya dipanggil untuk menyelesaikan permasalahan teknis yang muncul selama perekaman film. D.O.P sangat jarang mengoperasikan kamera. Kerja D.O.P sangat dekat dengan sutradara untuk mengarahkan teknik pencahayaan dan jangkauan kamera untuk setiap pengambilan gambar. Itu adalah salah satu alasan utama kita untuk berusaha mendapatkan uang untuk menjadi entertain. Karena jika bukan untuk bakat dan pengetahuan sinematografer tidak ada jalan untuk membuat dunia kata-kata penulis kedalam gambar yang bisa dilihat oleh semua orang” demikian kata Sinematografer Michael Benson.

Banyak orang berpikir bahwa sutradara mengatur seorang aktor apa yang harus dia lakukan dan D.O.P mengambil gambar. Ini benar, tetapi ada banyak lagi proses selain hal tersebut. Perubahan dari script ke dalam layar lebar adalah melalui lensa seorang D.O.P. Pembuatan film adalah bekerja bersama dengan apa yang ada disana, dan memfilter apa yang ada disini melalui suatu alat yang disebut kamera. Sampai frame pertama digunakan, ini hanyalah sebuah kontrak, ide, konsep, script dan harapan.

Sinematografi tidaklah hanya melihat melalui kamera dan mengambil gambar. Namun tentu saja memerlukan mata yang tajam dan imaginasi yang kreatif. Ini juga memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, persepsi sensor yang tepat dan tetap fokus kepada detail. Hampir dari semua itu memerlukan kemampuan untuk memimpin dan juga mendengar, untuk menjadi bagian dari tim kreatif dan proses, dapat dengan memberikan saran yang membangun dan kritis. Sinematografer memerlukan waktu yang panjang dalam pekerjaannya dan memerlukan pengamat, waktu yang pendek untuk masuk ke dunia yang baru

Bekerja dengan Sutradara

Tanggung jawab utama dari D.O.P adalah untuk menciptakan jiwa dan perasaan dalam gambar dengan pencahayaan mereka. Tergantung kepada gaya sutradara, anda dapat memutuskan untuk memilih penampilan film anda sendiri, atau, biasanya setelah meeting dengan sutradara dan biasanya dilakukan bagian artistik yang anda pilih untuk mengatur teknik pencahayaan yang sesuai. Atau sutradara memiliki ide sendiri seperti apa bentuk film ini dan ini akan menjadi tugas D.O.P untuk memenuhi keinginan ini. Semua jalan kerja yang berbeda-beda ini hanyalah panduan yang menyenangkan dalam usaha untuk memenuhi harapan sutradara dan memberikan apa yang dia inginkan dan semoga memberikan kebanggaan dan kesetiaan seorang sutradara.

Sutradara dan sinematografer seharusnya secara konstan berdiskusi tentang angle kamera, warna, pencahayaan, blocking dan pergerakan kamera. Sutradara tahu apa yang dia inginkan. Bagaimana dia mengerjakan ini biasanya tergantung kepada sinematografer. Sinematografer menawarkan ide dan menerima penolakan. Sutradara adalah kapten dari kapal. Seberapa banyak atau sebatas mana kolaborasi yang dia inginkan adalah keputusannya

Sinematografer Darius Khondji mengatakan ”Saya melihat pekerjaan saya adalah untuk membantu director dalam memvisualisasikan film. Ini akan menjadi proses yang terus-menerus, ada banyak hubungan dengan sutradarara tidak hanya sebatas profesional, sering kali menjadi teman dekat dalam kolaborasi kami.

Sebagai seorang manager, saya mempelajari banyak hal tentang bagaimana mengatur orang. Saya belajar bagaimana merencanakan dan apa peran penting sebuah tim. Saya belajar cara menangani lokasi, bekerja sebagai AD, mengendarai mobil, dan sebagian pertunjukan, bahkan sebagai pemegang kunci. Semua posisi adalah pelajaran yang tidak ternilai,” kata Neil Roach.

Salah satu pelajaran terpenting yang telah dipelajari Neil Roach sepanjang karirnya tentang pembuatan film adalah mengenai kolaborasi. “Saat anda bekerja dengan sutradara yang tepat, anda dapat menghasilkan kerja yang menakjubkan” Dia berkata, “Tidak menjadi masalah dengan sutradara, yang harus anda lakukan adalah anda bekerja yang terbaik. Karena tugas alami seorang kameramen adalah selalu berkata ‘tidak’. Tidak, anda menginginkan terlalu banyak cahaya. Atau ‘tidak’ anda tidak dapat melakukan ini dan itu. Dalam hati, saya selalu menggambarkan ini untuk menyenangkan diri saya sendiri, dan memperoleh apa yang saya inginkan pada waktu yang sama, memberikan pegawai apapun yang mereka inginkan.”

Sebagai seorang kepala departemen senior, D.O.P diharapkan dapat menjadi contoh keseluruhan unit. Sering kali hanya individu dari sinematografer yang bekerja sebatas kualitas fotografi saja. Ketepatan waktu, perilaku kru, pakaian, kesopanan semua menjadi satu, setidaknya bagian dari D.O.P sehingga mereka menetapkan standar profesional untuk setiap kru. D.O.P bertangung jawab untuk semua hal yang berkaitan dengan fotografi pencahayaan film , exposure, komposisi, kebersihan, dll, yang semua itu adalah tanggung jawab mereka

Operator kamera memainkan peran yang terpenting dalam membuat film dengan sutradara. Seorang operator pemula akan tidak percaya diri dengan sutradara. Ada segitiga sutradara, kamera (dan operator) , serta aktor” Michael Benson menjelaskan “Saat segitiga tersebut rusak, jalur komunikasi juga akan rusak. Ini dapat menjadi berbagai bentuk, tetapi segitiga tersebut adalah hal terpenting dari film dan pencerita dapat berafiliasi dengan ini. Operator adalah orang yang tahu jika suatu pengambilan sudah fokus. Saat ini ada suatu kesalahan bahwa teknologi dapat membetulkannya. Tetapi jika pengambilan tidak fokus, tidak ada teknologi yang dapat merubah supaya fokus”

Grip

Grip bertanggung jawab pada dolly track dan semua gerakan yang dilakukannya. Dia juga bertanggung jawab untuk memindahkan tripod untuk setup selanjutnya: focus puller biasanya bersama dengan kamera. Salah satu hal terpenting adalah kamera tidak boleh dipindahkan saat dia masih berada di tripod. Grip juga bertanggung jawab terhadap gedung, atau mengatur gedung, mengawasi gedung, setiap konstruksi yang diperlukan untuk mendukung jalur atau pergerakan kereta supaya bisa berjalan. Tingkat dan kerataan kerja dorongan track adalah kunci sukses pengambilan gambar. Perawatan jalur dolly dan peralatannya adalah tugas grip. Mereka akan sering membangun atau membuat beberapa hal kecil untuk memperbaiki kamera di hampir setiap objek

Gaffer

Gaffer adalah seorang kepada elektrik dan akan bekerja langsung dengan D.O.P. Beberapa D.O.P akan menentukan bentuknya dan pintu gudang dan yang tidak dia inginkan- ini tergantung kepada bagaimana mereka ingin bekerja bersama, Sering D.O.P akan dekat dengan gaffer daripada anggota kru lain. Mereka sangat vital untuk kesuksesannya

Sejak pertama kali sinematografer Ward Russell “naik“ menjadi Director Photography, dia memberikan nasihat kepada gaffernya “Saya selalu memberitahukan kamu bahwa kamu dapat belajar dari bayangan daripada dengan melihat cahaya Anda dapat mengatakan arah, kelembutan, intensitas, dan perbandingan kepada bayangan. Bayangan memberikan kamu kontras dan kontras yang memberikan kamu bentuk dan drama. Exposure saya selalu sesuai, tidak lebih, seberapa detail saya ingin melihat dalam bayangan sama dengan seberapa terang saya ingin dari cahaya. Untuk saya, sekali anda memiliki titik yang tepat untuk cahaya, proses kreatifnya adalah seberapa banyak cahaya yang dapat anda ambil

Kamera Film

Manusia telah dibohongi oleh film selama berabad-abad. Salah satu alasannya adalah oleh satu peralatan kecil sederhana (yang juga merupakan peralatan dasar sinematografer), kamera film, untuk merekam langsung dari imaginasi kita. Hal pokok dari kamera film adalah beberapa kotak, salah satunya dengan lensa di depan dan mekanisme yang dapat ditarik sesuai dengan lama film setidaknya enam belas kali setiap detik

Hal lainnya memiliki panjang yang sesuai untuk mekanisme film, dengan ruang yang tersisa untuk mengambil gambar setelah exposure. Saat gambar-gambar dari alat ini diproyeksikan oleh mekanisme yang sesuai, mereka memberikan representasi dari scene asli dengan semua pergerakannya yang ada didalamnya untuk ditampilkan dengan benar.

Bagian mesin yang sangat tepat ini memiliki sejumlah fungsi, yang masing-masing memerlukan pemahaman dan perawatan, dari kamera untuk tetap menghasilkan yang terbaik dan konsisten. Seorang kameramen pemula harus mencoba untuk familiar dengan itu semua dan nyaman dengan pengoperasian kamera, sehingga dia dapat berkonsentrasi untuk aspek kreatif dari cinematography. Pergerakan mekanisme film adalah berbeda dengan kamera saat hanya sebagai sebuah kamera. Ilusi dari pergerakan gambar diciptakan oleh pergantian fotografi yang cepat

Menghasilkan gambar yang bergerak cepat dengan panjang tertentu dari gambar yang ada adalah yang menjadi perhatian dari pandangan manusia. Jika gambar dipancarkan ke retina, mata manusia akan melihat gambar, singkatnya, secara keseluruhan dan seterusnya, untuk periode yang singkat, gambar akan tetap berada di dalam manusia saat menjadi redup atau menghilang.

Jika gambar kedua ditembakkan ke retina manusia akan dapat melihat dua gambar yang berkelanjutan tanpa ada sorotan yang pertama.. Proses flashing gambar yang berkelanjutan ini akan membuat otak menganggap tidak ada jarak antara dua gambar tersebut dan pergerakannya lembut. Laju flashing gambar ke mata adalah sepuluh flash setiap detiknya, dalam laju ini efek kedip akan tidak terasa. Hanya di sekitar enam belas atau delapan belas gambar baru per detik yang menyebabkan pergerakan dianggap sebagai suatu pergerakan yang dapat diterima dan efek kedip dapat dikurangi sampai ke titik yang dapat diabaikan.

Seiring pergantian abad, laju frame menjadi 18 frame per detik (fps) menjadi sesuatu yang umum. Saat ini baik kamera dan proyektor masih dengan tuas tangan dan memiliki kecepatan 2 putaran per detik yang akan menghasilkan laju frame, yang sangat nyaman.

to be continued………….

diki umbara

LA LIGHTS INDIE MOVIE 2008

LA LIGHTS INDIE MOVIE 2008

FILM GUE CARA GUE

EVENT SERU DAN CREATIVE : WORKSHOP FILM INDIE DI 4 KOTA ( JAKARTA, BANDUNG, SURABAYA DAN YOGYAKARTA), MEET THE PRODUCERS, BIKIN FILM BARENG ARTIS…

MAKIN SERU DENGAN PEMBICARA WORKSHOP DARI DALAM & LUAR NEGERI

DIANTARANYA :

SLAMET RAHARDJO, SALMAN ARISTO, AGUNG SENTAUSA, TITIEN WATTIMENA, MONTY TIWA, SEKAR AYU ASMARA, PHILP CHEAH ( SINGAPURA), STANLEY KWAK (KOREA SELATAN), ALEXIS TIOSECO ( PHILIPHINA), DEB VERHOEVEN ( AUSTRALIA), NOVA RIYANTI YUSUF.

 
PRESENTASIKAN IDE LOE DALAM MEET THE PRODUCERS :
 
HANUNG BRAMANTYO, DJENAR MAESA AYU, JOHN DE RANTAU, VIVIAN IDRIS, ARTURO GP, MARCELLA ZALIANTY, VIVA WESTI, NOVA ELIZA,  

     

 

 

 

 

Catat Tanggalnya :* Jakarta
5 – 6 Juli 2008, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan – Jakarta * Surabaya
12 – 13 Juli 2008, Gedung Telkom Ketintang – Surabaya* Bandung
19 – 20 Juli 2008, Taman Budaya Bandung (Dago Tea House)* Yogyakarta
26 – 27 Juli 2008, Taman Budaya Yogyakarta

Soo….Buruan Ajak teman-teman dan Komunitas kamu untuk mengikuti Event ini..!!

*Pendaftaran dibuka mulai Sekarang sampai akhir Juni 2008. Biaya Pendaftaran Rp. 10.000,-

 

SEKRETARIAT JAKARTA:
SET Film WORKSHOP
Jl. Sinabung no. 4B
Pakubuwono, Kebayoran baru – JakSel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Email Pendaftaran dan Informasi:
la.indiemovie@… dan
indiemovie@…

CP:
Rani / Anung / Kiki
 021 727 99227/ 727 99226

 

 

 

 

IGHS 2008

Indonesia Global Halal Summit 2008

1 – 2 July 2008

at Hotel Gran Melia Jakarta

Start: Jul 1, ’08 9:00p
End: Jul 2, ’08
Location: Hotel Gran Melia Jakarta

Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Berdasarkan fakta ini saja, Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi
pusat industri makanan halal dunia. Selain dari dukungan pasar, SDA
dan SDM Indonesia pun sebenarnya sangat memadai untuk mendukung
cita-cita ini.

Terkait hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengadakan
konferensi halal tingkat global yang bertajuk “The 1st Indonesia
Global Halal Summit” pada tanggal 1-2 Juli 2008 yang bertempat di
Hotel Gran Melia, Jakarta. Acara ini sendiri rencananya akan dibuka
oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Tujuan dari diadakannya acara ini sendiri adalah untuk memberikan para
pengusaha yang berkecimpung didalam industri halal lebih banyak
informasi lagi mengenai perdagangan halal di dunia, dan untuk
mengambil bagian di dalam industri halal yang kian berkembang.

Halal tidak hanya terkait dengan makanan dan minuman saja, namun
termasuk didalamnya farmasi, produk-produk kosmetik dan kecantikan,
gaya hidup, keuangan, asuransi, pariwisata, pendidikan, dan lain
sebagainya..

MENGENAI THE 1ST INDONESIA GLOBAL HALAL SUMMIT 2008:

Industri halal merupakan salah satu industri yang paling cepat
berkembang di dunia; memberikan kemungkinan-kemungkinan baru bagi para
pelaku bisnis di industri halal di segala aspek.

Ada terdapat banyak peluang untuk melakukan bisnis di industri halal,
baik Muslim maupun non-Muslim yang ingin mengukuhkan perusahaannya di
pasar ini.

Para ahli dari dunia yang berkecimpung dalam industri ini dari sektor
swasta dan pemerintah akan berkumpul selama dua hari di Jakarta untuk
menjabarkan tentang masa depan dari industri halal.

Acara selama dua hari ini akan meliputi tentang dua hal penting di
industri halal; barang dan jasa. Acara akan menjadi landasan dasar
yang penting bagi para pelaku bisnis yang berkecimpung di industri
halal dunia untuk membicarakan dan membangun aliansi-aliansi baru di
industri halal.

MATERI SECARA GARIS BESAR:

* Melihat Pangsa Pasar Halal Secara Global – Peluang & Tantangan

* Keuntungan Yang Bisa Didapatkan Dari Pangsa Pasar Halal Dunia

* Pentingnya Sertifikasi Dan Standarisasi Untuk Pengembangan Usaha

* Pentingnya Mempunyai Merk Halal Untuk Memperluas Pangsa Pasar

* Peluang & Tantangan Dalam Bisnis Produksi Makanan

* Peluang & Tantangan Dalam Industri Halal

* Syarat-syarat Yang Harus Dimiliki Sebuah Industri Agar
Mendapatkan Kredibilitas Halal Dalam Pangsa Pasar Dunia

* Perkembangan Sektor Keuangan Syariah Dan Peluang Yang Terdapat
Didalamnya

* Membuka Kesempatan Untuk Berinvestasi Di Industri Halal Yang
Tersedia Di Indonesia

TUJUAN & MANFAAT:

* Untuk mempromosikan, mengembangkan dan menstimulasi pertumbuhan
industri halal

* Untuk mengevaluasi peluang-peluang yang ada di industri halal
dan mencari cara untuk masuk kedalamnya

* Pentingnya sertifikasi dan standar halal untuk mendapatkan
kepercayaan dari konsumen

* Berbagi pengalaman, pandangan dan pengetahuan sesama pelaku
bisnis di industri halal

* Untuk mengembangkan dan mempromosikan merek dagang yang berlabel
Halal

* Untuk mendukung para pelaku bisnis dalam menggunakan transaksi
syariah

PESERTA:

* Semua pelaku bisnis yang berhubungan baik secara langsung maupun
tidak langsung dengan industri Halal

* Pelaku bisnis yang terlibat dalam industri barang konsumsi
(Consumer Goods) seperti makanan & minuman, kesehatan, kosmetik,
farmasi, dll

* Penyedia pakan ternak dan pertanian

* Para pelaku bisnis dalam industri supermarket dan toko-toko retail

* Pebisnis di industri rumah-rumah penjagalan

* Akademisi/Peneliti/Asosiasi Industri/ Konsultan

* Perwakilan dari pemerintah

* Institusi-insitusi Keuangan (bank, asuransi dan jasa keuangan
lainnya)

Untuk lebih jelasnya mengenai acara ini, silahkan menghubungi Niken di
0816 1343 920 / (021) 3190 9775 / (021) 390 3177 / (021) 314 0547 atau
melalui e-mail di niken_l4@yahoo.co.id / ms.nikenlarasati@gmail.com

Persiapan Menjadi Sutradara (part 1)

Sutradara

Sebagian dikutif dari buku jadul “The Film Director” karya Richard L.Bare

Tidak seperti sebagian artis, aktor, maupun penulis yang biasanya terlahir dengan bakatnya, seorang sutradara harus mempelajari seni dari pekerjaan yang digelutinya. Melalui apa? yakni melalui :

  • Observasi dan tentu saja praktek.
  • Sutradara juga bisa belajar dengan cara menonton film-film karya sutradara yang lain.
  • Calon sutradara juga bisa belajar dengan memperhatikan cara sutradara lain bekerja di lapangan
  • Pengetahuan penyutradaraan juga bisa diperoleh dari membaca buku-buku tentang film atau mengikuti pendidikkan sinematografi bisa berupa kursus atau pendidikan formal
  • Satu hal yang pasti, tempat berlatih yang baik bagi calon sutradara adalah industri film itu sendiri. Intinya, terjun langsung dalam dunia film adalah pelatihan terbaik.

Memang tidak begitu banyak institusi pendidikan yang memfokuskan pada sinematografi di Indonesia, beberpaa perguruan tinggi diantaranya ada IKJ (Institut Kesenian Jakarta), ISI (Institut Seni Indonesia) Jogyakarta, dan Next Academy. Lain halnya kalau broadcasting (penyiaran), puluhan perguruan tinggi sudah membuka jurusan ini. Universitas Indonesia, UNPAD Bandung, Univ Moestopo, Sahid, AKOM BSI, Univ Tarumanagara, dan terakhir Univ Pancasila memiliki jurusan Broadcasting. Nah kalau tempat kursus diantaranya, School for Brodcast Media, PPHUI (Usmar Ismail), Diklat TVRI, Broadcast Center UI, dan CMC.

Selain institusi tadi, sutradara Rudy Soejarwo pernah mengadakan pelatihan penyutradaraan, juga Pop Corner yg terdiri dari beberapa sineas muda, terakhir Hanung Bramantyo juga mengadakan semacam pelatihan untu calon asisten sutradara.

Mengikuti pendidikan formal atau kursus bukan jalan satu-satunya, seperti yang diuraikan di atas bahwa ada cara-cara lain. Menonton karya sutradara lain juga penting dan ini juga dilakukan di perguruan tinggi semisal yang dilakukan di University of Southern California dan Academy of Motion Picture Arts and Sciences bahkan di Institut Kesenian Jakarta juga, bahkan menonton menjadi kewajiban mahasiswa. Sutradara Riri Riza menyukai sesi menonton ini yg diwajibkan di mata kuliah Sejarah Film.

BUSWAY ON THE WAY (part 1)

busway

Pengalaman naik busway (benernya sich bis “Transjakarta”), sudah hampir satu setengah tahun terutama setelah jalur Koridor 6 (Ragunan – Halimun) beroperasi. Ketika transportasi di Jakarta gak karu-karuan, semrawut dan macet dimana-mana, bus Transjakarta punya jalur sendiri, busway, lancarrrr…….. Paling gak ini bisa dirasakan setelah ada peraturan yg lumayan tegas, kendaraan lain selain Transjakarta tidak boleh menggunakan jalur khusus ini.

Banyak pengalaman unik waktu menggunakan moda Transjakarta ini, dari mulai antri di shelter yang panjangnya ampun-ampun dan berdesak-desakkan di dalam bis. Yang jelas naek transjakarta emang seru, hanya dengan 3.500 perak sudah bisa keliling Jakarta, murah kan booooo……..

Serunya naek busway membuat Rina Junior tertarik membuat lagu yg dia beri judul “Bus Way on The Way”. Sebuah kisah simpel tentang seorang pemuda yang memiliki janji sama pacarnya, dan ini lyricnya “


Dilaut hiruk kendaraan, busway melaju kencang
Jati padang ke kuningan, buswayku bebas menerjang
tetapi lihat ojek curang, mengambil jalur bebas hambatan
Busway tak mampu melawan, buswayku jadi tertahan
Orang orang mulai berang, busway ditunggu tak datang
Polisi angkat tangan, pacarku tak sabaran, HP aku matikaaan…
kencanku berantakan..

Ea..eoo..
Orang orang mulai berang, busway ditunggu tak datang
Polisi angkat tangan, kencanku berantakaaan…

Reff:
Baby haree geneee..harap kau mengertiii… telat bukannya niat!
Baby haree geneee.. kalo ga mo ngertiii…cari honey yang naik mercyyyy

Akhirnya aku naik taxi, tapi justru bikin keki
goban hilang, taxi ga jalan, pacarku penasaran, pulsaku kehabisan
karena masuk jalur nyasar, taxi nyangkut ditrotoar
Polisi koar koar, pacarku tambah gusar, pasti ku kena lempaaaar…
kencanku berantakan…

Ea ..eooo…
Baby my busway on the way.
Pacarku saying,. no way !
ape mau dikate…
My baby said. go awaaaay !!!

Ea..eooo…oooo
Baby my busway on the way.. baby my busway on the way….

So,….apa hubungannya dengan CREATIVE SORE ?

Yeah….lagu ini akan segera dibuat video clipnya. Dan Creative Sore berkesempatan membuat video clip ini. “Busway on The Way” akan dibesut oleh sutradara Myhell alias Helmie. Sedangkan ide visual sudah rampung “dioret-oret” oleh Didot.

Bagaimana konsep video klip perdana garapan Creative Sore ini? Sssssstttt……masih rahasia nich. Rencana shooting akan dilaksanakan pertengahan Mei ini, menunggu UTS kelar. Maklum…..semua crew Creative Sore adalah mahasiswa…..(to be continued….)

Apa dan Siapakah Sutradara itu ?

Apa dan siapakah Sutradara itu ?

Camera Roll….and…Action!

Beradasarkan definisi, sutradara adalah seseorang yang menterjemahkan bahasa naskah ke dalam ”bahasa” suara dan gambar secara spesifik. Dia memvisualkan naskah atau script dengan memberikan konsep abstrak ke dalam bentuk yang kongkrit atau nyata. Sutradara membangun sebuah pandangan atau point of view ke dalam suatu gagasan dan menentukan pemilihan shot-shot, penempatan dan pergerakkan kamera, serta mengarahkan akting pemain.

Sutaradara bertanggungjawab pada struktur dramatis, alur cerita, yuang tercakup dalam audio dan visual. Dia harus mampu mempertahankan keingintahuan penonton. Sutradara bekerja bersama kru serta talent (aktris/actor), membangun plotting,

Menurut Roman Polanski, penyutradaraan adalah sebuah gagasan dimana anda harus memiliki keseluruhan alur yang bisa dipaparkan dengan baik. Polanski juga mengatakan bahwa sutarada itu seperti jenderal, politisi diktator, orang yang sangat agresif. Mungkin pendapat ini agak sedikit berlebihan, namun poin pentingnya bahwa sutradara harus bisa memimpin. Sutarada sebagai guide yang bisa “menyampaikan ini dan itu”.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.